Pilih Bahasa

Jumat, 18 Juni 2010

Tragedi peledakan gereja di Irak lewat bom mobil

BAGHDAD (iol) – Tragedi peledakan gereja di Irak lewat bom mobil, Ahad (1/8), menyisakan sebuah pertanyaan, bagaimanakah sebenarnya Kristen di negeri seribu satu malam itu?

Saat ini penganut Kristen di Irak berjumlah sekitar 700 ribu jiwa dari 24 juta penduduk Irak.

Berdasarkan Undang-Undang Dasar Irak Sementara, yang disahkan pada Maret 2004, dan masih tetap diberlakukan sampai pemilu Januari 2005 mendatang, disebutkan bahwa Irak menganut prinsip kebebasan setiap agama.

Pada pasal ke-7 dari UUD Irak disebutkan, Islam adalah agama resmi negara Irak dan sumber hukum, selain itu juga menjamin kebebasan agama secara luas bagi agama-agama lainnya dan kebebasan untuk melakukan aktifitas-aktifitas keagamaan.

Selain itu UUD itu juga mengakui dua suku utama yaitu suku Arab dan Kurdi ditambah lagi suku-suku lainnya, dan UUD menegaskan hak-hak legalnya.

Pada Desember 1972 pihak rezim Saddam telah menentukan suku-suku yang diakui yaitu Asywariyyah, Kaldiniyyah dan Siryaniyyah.

Mayoritas suku Kaldaniyyah menganut Kristen Katolik yang tata cara peribadatannya bergaya Kristen Ketimur-timuran. Dan Thariq Aziz, mantan Perdana Menteri di era Saddam yang saat ini dipenjarakan adalah salah satu tokoh dari suku Kaldaniyyah. Adapun Kristen dari suku Asywariyyah mencapai sekitar 50 ribu orang.

Di Irak juga terdapat Katolik Suryaniyyah dan Ortodok serta Armin Katolik dan Ortodok. Sejak protektorat Inggris di daerah Irak, maka muncullah Protestan dan Katolik dari gereja Latin.

Sampai sekarang masih terdapat penganut Kristen Irak yang dapat berbicara dengan bahasa Aramiyyah Suryaniyyah yang dahulu dipergunakan sebagai bahasanya Al-Masih (Yesus). Di tahun 70-an pernah terbit majalah-majalah budaya dengan dua bahasa yaitu Aramiyyah dan Arab, demikian juga acara-cara radio dan televisi dengan bahasa Aramiyyah. Sementara di Kurdistan Irak tercatat sekitar 150 ribu penganut Kristen, mayoritas mereka berasal dari suku Kaldaniyyah.

Kaum Kristen sendiri dalam pemerintahan Iyyad ‘Alawi medudukan satu wakilnya yaitu Pascal Isywa, Menteri Urusan Orang Asing dan Imigrasi Irak.

Karena perang yang terus berkecamuk dam kemiskinan yang melilit, akhirnya beberapa penganut Kristen Irak memilih untuk hengkang dari Irak. Tercatat sekitar 500 ribu penganut Kristen Irak hengkang dalam 15 tahun terakhir.(lys/eramuslim)

0 komentar:

Poskan Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More